Gay adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk orang
homoseksual
atau sifat-sifat homoseksual. Istilah ini awalnya digunakan untuk
mengungkapkan perasaan "bebas/ tidak terikat", "bahagia" atau "cerah dan
menyolok". Kata ini mulai digunakan untuk menyebut homoseksualitas
mungkin semenjak akhir abad ke-19 M, tetapi menjadi lebih umum pada abad
ke-20. Dalam
bahasa Inggris modern,
gay digunakan sebagai
kata sifat dan
kata benda, merujuk pada
orang -terutama
pria gay- dan
aktivitasnya, serta
budaya yang diasosiasikan dengan homoseksualitas.
Pada akhir abad ke-20, istilah "gay" telah direkomendasikan oleh kelompok-kelompok besar
LGBT dan
paduan gaya penulisan untuk menggambarkan orang-orang yang
tertarik dengan orang lain yang berkelamin sama dengannya. Pada waktu yang hampir bersamaan, penggunaan menurut istilah barunya dan penggunaannya secara
peyoratif menjadi umum pada beberapa bagian dunia. Di
Anglosfer,
konotasi ini digunakan kaum muda untuk menyebut "sampah" atau "bodoh"
(misalnya pada kalimat: "Hal tersebut sangat gay"). Dalam konteks ini,
kata
gay tidak memiliki arti "homoseksual" sehingga bisa
digunakan untuk merujuk benda tak bergerak atau konsepsi abstrak yang
tidak disukai. Dalam konteks yang sama, kata "gay" juga digunakan untuk
merujuk kelemahan atau ketidakjantanan. Namun, saat digunakan dalam
konteks ini, apakah istilah
gay masih memiliki konotasi terhadap homoseksualitas, masih diperdebatkan dan dikritik dengan kasar.
CIRI-CIRI SESEORANG ADALAH GAY
1. Tatapan. Seorang pria akan menatap pria lain lebih lama dari pria
biasa. Biasanya lebih dari 3 detik, dan itu dilakukan berulang-ulang.
Tentunya hal ini akan dilakukan terhadap pria yang memang disukainya.
Bahkan tatapan ini akan diakhiri dengan senyuman. Bagi sebagian gay
mengaku, tatapan mata seorang gay terhadap pria itu sangat dalam dan
terasa “menusuk”.
2. Wangi parfum lebih mencolok daripada wanita. Dan parfum yang
digunakan biasanya branded. Bahkan jika tidak mendapatkan parfum
branded, yang aspal bahkan jadi, yang penting baunya mendekati alias
mirip-mirip.
3. Cara berpakaian yang lebih dandy, modis, matching dan update.
Motif yang dipakai biasanya garis garis lurus dan warnanya tidak
terlalu
eye-catching. Namun beberapa ada juga yang suka tampil
dengan warna-warna mencolok dan ngejreng. Bahkan untuk kaos, lebih
disukai yang ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh lebih jelas.
Termasuk kemeja juga dipilih ukuran yang lebih ngepas biar kelihatan
bentuk tubuhnya, apalagi jika didapatkan dari hasil fitnes.
4. Tata rambut yang lebih klimis dan trendy. Selain penampilan, baju,
dan wajah. Tak kalah pentingnya adalah tatanan rambutnya, biasanya pria
gay lebih klimis dibanding pria heteroseksual. Umumnya mereka suka
memakai produk rambut jenis gel yang membuat lebih
wet look dan terlihat fresh.
5. Cara bicara yang lebih sopan. Umumnya tata bahasa yang dipakai
lebih ditata. Bahkan pada kebanyakan gay, cara mereka bicara lebih
kental huruf ‘s’ nya, dan parahnya lagi kebanyakan suaranya cempreng.
Hal ini akan sangat nampak pada gay yang tingkat femininnya lebih
tinggi. Makanya kalo kencan buta via telpon, umumnya dapat dikenali dari
suara cempreng dan agak lembut, maka langsung bisa terdeteksi apakah
pria itu gay atau bukan.
6. Gesture dan sikap. Pria gay , umumnya lebih menjaga sikap seperti
cara berdiri, cara duduk hingga cara berjalan. Ketika duduk, dapat
dengan mudah dikenali bagaimana pria gay menaruh tangan dan memposisikan
atau menyilangkan kaki dengan anggun.
7. Pria gay lebih berani dalam menunjukan sikap dan ketertarikan.
Jika dia merasa tertarik dengan anda, maka dia takkan ragu untuk
mendekat menghampiri anda dan mengajak kenalan.
Sebagai tambahan untuk anda dari pengalaman kenyataan yang saya lihat
dan ketahui bahwa seorang gay selalu mencari mangsa baru…..dan luar
biasanya calon korbannya adalah anak2 remaja ganteng yang masih “pejaka”
atau orang2 muda yang masih polos. jujur tidak sedikit orang2 muda yang
terjebak dan akhirnya menjadi gay juga… yang paling parah saya pernah
ketemu dengan seorang bapak/kakek yang umurnya sekitar 60-70 thn yang
sepintas lalu dia kelihatan bukan gay karena dia punya 3 orang anak,
semuanya sudah menikah dan memiliki anak. dari kenyataan tersebut dapat
saya simpulkan seorang gay bisa menutup “penyimpangannya” dengan punya
pacar or menikah.
CARA YANG DAPAT DILAKUKAN AGAR TERHINDAR DARI GAY/LGBT
Ciptakan Lingkungan Rumah yang Sehat
Karena homoseksualitas sering muncul dari adanya hubungan yang tidak dikehendaki antara orangtua dengan anak, maka keluarga adalah titik awal dimana usaha pencegahan harus dimulai. Memang benar dan tidak diragukan lagi bahwa orangtua yang memiliki kehidupan pernikahan yang sehat tidak akan menasihati anaknya agar memilih pasangan yang sejenis. Seorang ayah tidak akan menolak atau mengacuhkan anak-anaknya jika ia mengalami kepuasan dalam pernikahan, karier yang tidak menyita hampir seluruh waktunya, dan dia merasa aman dalam kemaskulinan dan kemampuannya sebagai laki-laki. Tidak ada anak yang bertumbuh menjadi homoseksual jika sejak semula dia sudah mempunyai hubungan emosional yang hangat, terutama dengan kedua orangtuanya.
Semuanya itu menyatakan bahwa gereja sebenarnya bisa mencegah homoseksualitas jika gereja menstimulasi pola keluarga yang Alkitabiah dimana ayah dan ibu secara jelas memiliki peran yang berbeda; ayah menjadi pemimpin di rumah, anak-anak dihargai dan didisiplin, serta orangtua memiliki hubungan yang saling memuaskan. Suasana rumah yang stabil menstimulasi perilaku heteroseksual yang sehat bagi anggota keluarga tersebut.
Memberikan Informasi yang Akurat Mengenai Homoseksualitas
Sangat menyedihkan saat mengamati penghukuman dan ketakutan orang-orang Kristen sebagai reaksi mereka terhadap homoseksualitas. Dengan tumbuh dalam lingkungan semacam ini, para pemuda justru belajar untuk takut terhadap homoseksualitas dan menekan berbagai kecenderungan "gay" yang ada di dalam diri mereka. Mereka bukannya mengakui dan bergaul dengan orang yang berjenis kelamin sama, melainkan menutup rapat-rapat semuanya itu. Mereka terdorong untuk bergabung dengan kelompok homoseksual yang justru bisa memahami, menerima, dan mengasihi mereka karena mereka tidak bisa mendapatkan pengertian dan pertolongan dari orangtua atau anggota gereja. Dengan sikap menyalahkan tersebut, maka gereja kadang-kadang justru menekan orang-orang ke dalam situasi yang mendorong perilaku homoseksual.
Alternatif penyelesaiannya bukanlah dengan cara mengembangkan sikap-sikap liberal yang mengabaikan dosa atas perilaku homoseksual. Jalan keluar yang bisa diberikan adalah gereja- gereja mengajarkan apa yang Alkitab katakan tentang kontrol seksual, cinta, persahabatan, dan seksualitas (termasuk homoseksualitas). Para pemimpin gereja seharusnya menunjukkan sikap belas kasih dan membesarkan hati, dan bukannya menghukum atau menyalahkan mereka. Pandangan miring tentang homoseksualitas (beberapa di antaranya dibahas dalam buku-buku Kristen populer tentang "gay") seharusnya diungkapkan apa adanya: ketidakbenaran yang dijejalkan pada orang-orang, ketidakpedulian yang terus- menerus, ketakutan yang dimunculkan, penyingkiran para homoseks dari persekutuan Kristen serta pelayanan yang lebih digunakan untuk membesar-besarkan pembenaran kritiknya. Semuanya ini menunjukkan bahwa permasalahan-permasalahan seperti homoseksualitas seharusnya didiskusikan di gereja dan bukannya dihindari.
Karena homoseksualitas bisa menjadi kebiasaan yang merupakan respon terhadap stimulasi lingkungan, maka gereja seharusnya menekankan tentang pentingnya pengendalian seksualitas pribadi. Hal ini bisa dilakukan melalui doa, merenungkan Firman Tuhan, menghindari situasi atau orang yang memunculkan pemikiran seksual, membuat keputusan dengan tenang untuk menghindari tindakan dosa, dan kebiasaan untuk menceritakan masalah dengan teman atau konselor yang bisa dipercaya.
Membangun konsep diri yang sehat.
Beberapa tahun yang lalu George Gilder dalam salah satu bukunya menunjukkan bahwa "ada jutaan laki-laki yang berada dalam kondisi keliru yang berpeluang terhadap homoseksualitas. Penyebab yang sering muncul adalah rendahnya penilaian diri. Kegagalan dalam cinta atau pekerjaan bisa juga membuat para lelaki putus asa sehingga mereka merasa tidak mampu membangun hubungan dengan wanita. .... Untuk mendapatkan seorang wanita, seorang pria harus benar-benar merasa bahwa dirinya adalah seorang pria." Jika seorang pria merasa tidak puas dengan dirinya atau tidak maskulin, dia mungkin mencari hubungan yang aman dimana dia tidak harus berlaku sebagai seorang pria atau membuktikan kejantanannya. Mungkin situasi yang hampir sama juga terjadi pada wanita. Konsep diri yang rendah juga menjadi peluang bagi seseorang untuk berperilaku homoseks.